Monday, March 15, 2010

Lorem Ipsum


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Pellentesque id sem ac orci congue ultricies. Praesent condimentum luctus tortor quis pellentesque. Cras nec diam sit amet purus sodales placerat a euismod metus. Nam dignissim molestie magna, in congue purus luctus nec. In non ligula ac tortor pharetra sollicitudin. Phasellus hendrerit turpis nec augue dapibus non facilisis massa pharetra. Ut facilisis, odio ut pretium scelerisque, sem risus sodales ligula, eu lacinia nisl arcu et mauris. Mauris risus odio, ornare ac semper nec, bibendum nec nulla. In eget ligula velit, et feugiat ligula. Maecenas neque ante, aliquam a pellentesque ac, porttitor sed mauris. Sed tincidunt, arcu vel fringilla tincidunt, lectus justo tincidunt felis, vel suscipit nulla quam ultricies felis. Donec ullamcorper augue at sem laoreet dictum. Maecenas ullamcorper convallis volutpat. Fusce ut odio tortor, eu elementum mauris. Maecenas ullamcorper condimentum scelerisque. Vivamus suscipit bibendum lacinia. Cras in arcu tempus lectus eleifend scelerisque ut ut turpis. Aliquam dapibus justo vitae massa pulvinar laoreet. Sed non risus ac mi lobortis luctus. Cras auctor mauris a dolor ultrices dictum.
Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas. Proin risus tellus, pellentesque at dignissim a, lacinia non odio. Aliquam eget quam eu eros scelerisque semper eu sit amet mauris. Fusce non sapien ac lectus lacinia molestie. Nulla rhoncus leo id justo aliquam adipiscing vehicula nisl interdum. Praesent magna urna, auctor id dictum sed, interdum quis leo. Donec rutrum accumsan lorem, vel posuere tortor elementum eget. Nullam non eros lacus. Donec scelerisque eleifend risus non luctus. Vestibulum auctor volutpat turpis, sed pretium velit ultrices nec. Etiam vel euismod elit. Mauris ligula justo, posuere sed ultricies ut, dignissim quis turpis. Praesent vel dui augue. Vivamus vel tellus quis leo suscipit pretium.
Donec vestibulum eros eget tellus mattis vel vehicula quam aliquam. Morbi molestie laoreet orci sed dignissim. Morbi euismod massa vitae felis lacinia tincidunt. Pellentesque at nibh nisi, sed consectetur sapien. Fusce eget ligula ac ante placerat viverra nec vitae lacus. Proin aliquet, mi egestas aliquam laoreet, justo mi dictum eros, eu rutrum diam massa eu est. Curabitur consectetur odio ut libero semper sodales et eu lectus. Etiam felis purus, pharetra at blandit vel, porta nec odio. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Nunc quis mauris nunc. Nunc sed mi at ipsum hendrerit accumsan. Etiam vulputate, turpis ac interdum volutpat, nisl neque elementum nisi, sed rutrum elit felis sed est. Praesent vitae sapien nisi, quis posuere risus. Maecenas feugiat quam vel massa sollicitudin placerat. Curabitur sit amet metus orci, vel facilisis tortor. Praesent gravida tortor eu urna porta sit amet porta mauris vulputate.
In facilisis malesuada quam quis iaculis. Nulla non blandit orci. Vivamus dapibus ultrices magna quis faucibus. Fusce scelerisque varius nisi non lobortis. Donec mauris ligula, sodales ut feugiat eget, venenatis eget turpis. Duis hendrerit facilisis eros et dictum. Mauris urna metus, pulvinar at lobortis vitae, elementum vel leo. Aliquam ac tortor orci, sed molestie nunc. Aliquam volutpat justo sed risus semper ut vehicula nisl egestas. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas. Suspendisse posuere egestas massa in dignissim. Duis laoreet purus eget dui scelerisque sit amet sollicitudin lectus aliquam. Nunc est massa, volutpat ut cursus sed, commodo a magna. Maecenas quis libero sapien, non commodo sem.
Vestibulum volutpat nisi a eros tincidunt mollis. Morbi id lectus sit amet diam aliquam posuere ac et nisi. Nam vitae sapien a tellus sodales lobortis ac sed velit. Proin quam ante, interdum ac eleifend vitae, porta at purus. Suspendisse interdum malesuada posuere. Morbi suscipit iaculis lacus a gravida. Ut ornare porta lectus, ut blandit felis egestas vitae. Nunc adipiscing tincidunt purus quis posuere. Vestibulum sit amet erat elit, in consequat risus. In hac habitasse platea dictumst. Duis vel mi ac nulla sagittis facilisis. Donec id velit eget sem varius dapibus et vestibulum orci. Praesent at augue risus, in consequat dui. Maecenas quis ligula at purus ultricies congue vel sed nulla. Ut vitae mi dolor. Quisque sit amet tortor vel ipsum bibendum consequat. Aliquam ipsum magna, porta nec tempor ac, suscipit eget augue. Morbi semper pulvinar nibh, mattis sollicitudin sem accumsan eu. Proin eros tortor, hendrerit non fringilla vel, sollicitudin quis lectus. Ut vitae tortor in massa sollicitudin luctus et vitae elit.

Good friends

I met her friends last night. It's kind of wonderful and with lots of great food. It happens that we have a very interesting talk, and I just realize that there might be a lot of oppurtinity out there. The problem is just make it happen and how to make a plan become a reality. It sounds good on the paper, but sometimes, you need to know the edges of some plan.

But I got really good friends that I could count on. And that is something worthy.

XOXO

Sunday, April 27, 2008

Kisah Semut dan Softlens

Brenda adalah seorang gadis muda yang diajak mendaki tebing oleh teman-temannya. Walau sebenarnya ia takut melakukannya, ia memutuskan untuk tetap pergi bersama mereka mendaki sebuah tebing granit yang curam.

Di luar rasa takutnya itu, ia memasang perlengkapannya, berpegang pada tambang dan kemudian memulai pendakian. Akhirnya ia sampai pada suatu pijakan di mana ia bisa menarik nafas sejenak. Tetapi di saat ia tengah berhenti, secara tidak sengaja matanya terbentur tali pengaman yang terikat di tubuhnya sehingga membuat soft-lensnya terlepas. Ia tengah di suatu pijakan tebing yang berada ratusan meter di atas tanah dan ratusan meter pula tebing di atasnya yang masih harus didaki. Ia melihat dan melihat sekelilingnya, sambil berharap dapat menemukan soft-lensnya yang terlepas itu, tapi ternyata ia tidak dapat menemukannya. Ia berada jauh dari rumah dan penglihatannya sekarang buram. Ia putus asa dan mulai merasa gelisah, kemudian ia mulai berdoa kapad Tuhan agar menolongnya menemukan soft-lens itu.

Ketika ia sampai di puncak tebing, temannya membantu mencari dengan memeriksa bajunya dengan harapan dapat menemukannya, tetapi soft-lens itu tetap tidak dapat ditemukan. Ia duduk dgn perasaan yang hilang pengharapan, beristirahat dengan sebagian rombongan sambil menunggu rombongan lainnya.

Sambil termenung, Brenda melihat gunung-gunung di sekitarnya, tiba-tiba teringat olehnya sepotong bagian dari ayat Alkitab yang tertulis, "mata Tuhan menjelajah seluruh bumi" (II Tawarikh 16:9). Ia kemudian berdoa di dalam hatinya, "Tuhan, Engkau dapat melihat semua gunung-gunung. Engkau juga mengetahui setiap daun dan batu yang ada di gunung ini, dan Engkaupun tahu dengan pasti di mana soft-lensku berada. Ya Tuhan, tolonglah aku."

Akhirnya mereka turun ke bawah melalui jalan yang kecil. Sesampainya di bawah, mereka bertemu dengan rombongan lain yang baru mau memulai pendakian. Tiba-tiba seorang dari mereka berteriak, "Halo teman, adakah di antara kalian yang kehilangan soft-lens?"

Tentu saja hal ini cukup mengejutkan, tetapi tahukah anda bagaimana pendaki itu menemukannya?Pendaki itu melihat seekor semut kecil sedang bergerak secara perlahan di permukaan tebing sambil membawa sebuah soft-lens.

Brenda memberitahukan saya bahwa ayahnya adalah seorang kartunis. Ketika bercerita kepada ayahnya mengenai kejadian luar biasa tentang seekor semut, doa dan soft-lensnya yang hilang, ayahnya kemudian menggambar sebuah kartun tentang seekor semut memikul sebuah soft-lens dengan tulisan, "Tuhan, aku tidak tahu mengapa Engkau menginginkan aku untuk membawa benda ini. Saya tidak dapat memakannnya dan benda ini sangatlah berat.Tetapi bila itu memang kehendakMu, aku akan membawakannya untukMu."

Tuhan Yesus telah merendahkan diriNya dan rela menderita menanggung semua beban dosa kita. Biarlah kita juga belajar merendahkan diri, sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan. Adakalanya dalam keadaan yang sukar, kita dapat belajar untuk berseru, "Tuhan, saya tidak mengerti mengapa Engkau menginginkan saya memikul beban ini. Saya tidak melihat ada hal yang berguna di dalamnya dan beban ini sangatlah berat. Tetapi kalau ini adalah kehendakMu, saya akan melakukannya."

Janganlah meminta pelayanan sesuai kekuatan kita, tetapi mintalah kekuatan sesuai dengan pelayanan kita."
Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." Filipil 4:13

Lembah Lolipop

Alkisah ada dua orang anak remaja, Bob dan Audrey, yang sedang melewati lembah permen lolipop. Di tengah lembah itu terdapat jalan setapak yang beraspal. Di jalan itulah Bob dan Audrey berjalan kaki bersama. Uniknya, di kiri-kanan jalan lembah itu terdapat banyak permen lolipop yang berwarni-warni dengan aneka rasa. Permen-permen yang terlihat seperti berbaris itu seakan menunggu tangan-tangan kecil Bob dan Audrey untuk mengambil dan menikmati kelezatan mereka.

Bob sangat kegirangan melihat banyaknya permen lolipop yang bisa diambil. Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut. Ia mempercepat jalannya supaya bisa mengambil permen lolipop lainnya yang terlihat sangat banyak didepannya. Bob mengumpulkan sangat banyak permen lolipop yang ia simpan di dalam tas karungnya. Ia sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut tapi sepertinya permen-permen tersebut tidak pernah habis maka ia memacu langkahnya supaya bisa mengambil semua permen yang dilihatnya.

Tanpa terasa Bob sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. Dia melihat gerbang bertuliskan "Selamat Jalan". Itulah batas akhir lembah permen lolipop. Di ujung jalan, Bob bertemu seorang lelaki penduduk sekitar. Lelaki itu bertanya kepada Bob, "Bagaimana perjalanan kamu di lembah permen lolipop? Apakah permen-permennya lezat? Apakah kamu mencoba yang rasa jeruk? Itu rasa yang paling disenangi. Atau kamu lebih menyukai rasa mangga? Itu juga sangat lezat." Bob terdiam mendengar pertanyaan lelaki tadi. Ia merasa sangat lelah dan kehilangan tenaga. Ia telah berjalan sangat cepat dan membawa begitu banyak permen lolipop yang terasa berat di dalam tas karungnya. Tapi ada satu hal yang membuatnya merasa terkejut dan ia pun menjawab pertanyaan lelaki itu, "Permennya saya lupa makan!"

Tak berapa lama kemudian, Audrey sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. "Hai, Bob! Kamu berjalan cepat sekali. Saya memanggil-manggil kamu tapi kamu sudah sangat jauh di depan saya." "Kenapa kamu memanggil saya?" tanya Bob. "Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen anggur bersama. Rasanya lezat sekali. Juga saya menikmati pemandangan lembah, indah sekali!" Audrey bercerita panjang lebar kepada Bob. "Lalu tadi ada seorang kakek tua yang sangat kelelahan. Saya temani dia berjalan. Saya beri dia beberapa permen yang ada di tas saya. Kami makan bersama dan dia banyak menceritakan hal-hal yang lucu. Kami tertawa bersama." Audrey menambahkan.

Mendengar cerita Audrey, Bob menyadari betapa banyak hal yang telah ia lewatkan dari lembah permen lolipop yang sangat indah. Ia terlalu sibuk mengumpulkan permen-permen itu. Tapi pun ia sampai lupa memakannya dan tidak punya waktu untuk menikmati kelezatannya karena ia begitu sibuk memasukkan semua permen itu ke dalam tas karungnya.

Di akhir perjalanannya di lembah permen lolipop, Bob menyadari suatu hal dan ia bergumam kepada dirinya sendiri, "Perjalanan ini bukan tentang berapa banyak permen yang telah saya kumpulkan. Tapi tentang bagaimana saya menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia." Ia pun berkata dalam hati, "Waktu tidak bisa diputar kembali." Perjalanan di lembah lolipop sudah berlalu dan Bob pun harus melanjutkan kembali perjalanannya.

Dalam kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu saja. Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup. Kita menjadi Bob di lembah permen lolipop yang sibuk mengumpulkan permen tapi lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia.

Pernahkan Anda bertanya kapan waktunya untuk merasakan bahagia? Jika saya tanyakan pertanyaan tersebut kepada para klien saya, biasanya mereka menjawab, "Saya akan bahagia nanti... nanti pada waktu saya sudah menikah... nanti pada waktu saya memiliki rumah sendiri... nanti pada saat suami saya lebih mencintai saya... nanti pada saat saya telah meraih semua impian saya... nanti pada saat penghasilan sudah sangat besar... "

Pemikiran 'nanti' itu membuat kita bekerja sangat keras di saat 'sekarang'. Semuanya itu supaya kita bisa mencapai apa yang kita konsepkan tentang masa 'nanti' bahagia. Terkadang jika saya renungkan hal tersebut, ternyata kita telah mengorbankan begitu banyak hal dalam hidup ini untuk masa 'nanti' bahagia. Ritme kehidupan kita menjadi sangat cepat tapi rasanya tidak pernah sampai di masa 'nanti' bahagia itu. Ritme hidup yang sangat cepat... target-target tinggi yang harus kita capai, yang anehnyakita sendirilah yang membuat semua target itu... tetap semuanya itu tidak pernah terasa memuaskan dan membahagiakan.

Uniknya, pada saat kita memelankan ritme kehidupan kita, pada saat kita duduk menikmati keindahan pohon bonsai di beranda depan, pada saat kita mendengarkan cerita lucu anak-anak kita, pada saat makan malam bersama keluarga, pada saat kita duduk bermeditasi atau pada saat membagikan beras dalam acara bakti sosial tanggap banjir, terasa hidup menjadi lebih indah.

Jika saja kita mau memelankan ritme hidup kita dengan penuh kesadaran, memelankan ritme makan kita, memelankan ritme jalan kita dan menyadari setiap gerak tubuh kita, berhenti sejenak dan memperhatikan tawa indah anak-anak bahkan menyadari setiap hembusan nafas maka kita akan menyadari begitu banyak detil kehidupan yang begitu indah dan bisa disyukuri. Kita akan merasakan ritme yang berbeda dari kehidupan yang ternyata jauh lebih damai dan tenang. Dan pada akhirnya akan membawa kita menjadi lebih bahagia dan bersyukur seperti Audrey yang melewati perjalanannya di lembah permen lolipop.